Beranda » Silaturahim » Sumpah Li’an dan Konsekwensi Hukumnya dalam Al-Qur’an, UU Perkawinan dan KHI

Sumpah Li’an dan Konsekwensi Hukumnya dalam Al-Qur’an, UU Perkawinan dan KHI

Pengertian Li’an
Kata li’an menurut bahasa berarti alla’nu bainatsnaini fa sha’idan (saling melaknat yang terjadi di antara dua orang atau lebih). Sedang, menurut istilah syar’i, li’an ialah sumpah dengan redaksi tertentu yang diucapkan suami bahwa isterinya telah berzina atau ia menolak bayi yang lahir dari isterinya sebagai anak kandungnya, dan kemudian sang isteri pun bersumpah bahwa tuduhan suaminya yang dialamatkan kepada dirinya itu bohong.
Ayat dan Kasus Li’an
Apabila seorang laki-laki menuduh isterinya berbuat serong dengan laki-laki lain, kemudian isterinya menganggap bahwa tuduhannya bohong, maka pihak suami harus dijatuhi hukuman dera, kecuali dia mempunyai bukti yang kuat atau melakukan li’an.

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” (QS An-Nuur: 6-9).

Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Hilal bin Umayyah r.a pernah menuduh isterinya berzina dengan Syarik bin Sahma’ di hadapan Nabi saw. Kemudian Nabi saw bersabda, “Kamu harus dapat membuktikan, atau (kalau tidak) hukuman had menimpa punggungmu.” Lalu dia berkata, “Ya Rasulullah, jika seorang di antara kami telah melihat seorang laki-laki berada di atas isterinya, masihkah dituntut untuk pergi mencari bukti?” maka Beliau pun bersabda, “Kamu harus dapat membuktikan, dan jika tidak maka hukuman had di punggungmu.” Hilal berkata, “Demi dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya saya benar-benar jujur. Maka saya harap sudi kiranya Allah menurunkan ayat Qur’an yang bisa membebaskan punggungku dari hukum dera.” Maka turunlah Malaikat Jibril dan menyampaikan wahyu kepada Beliau, WALLADZIINA YARMUUNA AZWAAJAHUM (dan orang-orang yang menuduh istri-isterinya) sampai padat IN KAANA MINASH SHAADIQIN (jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar). Kemudian Nabi saw beranjak dari tempatnya sambil menyuruh Hilal menemui isterinya. Kemudian Hilal datang (lagi) kepada Beliau, lalu memberikan kesaksian, lantas Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tahu bahwa seorang di antara kamu berdua ini ada yang bohong. Adakah di antara kalian berdua ini yang mau bertaubat?” Kemudian isterinya bangun lalu memberikan kesaksiannya. Maka tatkala ia hendak mengucapkan sumpah yang kelima, maka orang-orang menghentikannya (agar tidak jadi mengucapkan sumpah kelima), dan mereka berkata, “Sesungguhnya perempuan ini wajib dijatuhi hukuman.”

Ibnu Abbas berkata, “Lalu ia (isterinya itu) pelan-pelan mundur hingga kami menduga ia akan segera kembali.” Kemudian ia berkata, “Aku tidak akan membuat malu kaumku sepanjang hari.” Kemudian terus berlalu begitu. Lantas Nabi saw bersabda, “Perhatikan dia, jika dia datang dengan membawa bayi yang juling matanya, besar pinggulnya, dan kedua betisnya besar juga maka ia(bayi itu) milik Syarik bin Sahma’.” Ternyata dia datang persis yang disabdakan Nabi saw. Kemudian Beliau bersada, “Kalaulah tidak ada ketetapan di dalam Kitabullah, sudah barang tentu saya punya urusan dengan dia.”

Kekuatan Hukum Li’an
Apabila suami isteri melakukan mula’anah atau li’an, maka berlakukan pada keduanya hukum-hukum berikut ini :

1. Keduanya harus diceraikan, berdasarkan hadist:
Dari Ibnu Umar r.a , ia berkata, “Nabi saw memutuskan hukum di antara seorang suami dan isteri dari kaum Anshar, dan menceraikan antara keduanya.”

2. Keduanya haram ruju’ untuk selama-lamanya.
Dari Sahl bin Sa’d ra, ia berkata, “Telah berlaku sunnah Nabi saw tentang suami isteri yang saling bermula’anah di mana mereka diceraikan antara keduanya, kemudian mereka tidak (boleh) ruju’ buat selama-lamanya.”

3. Wanita yang bermula’anah berhak memiliki mahar
Dari Ayyub bin Sa’id bin Jubair, ia bercerita: Saya pernah bertanya kepada Ibnu Umar ra, “(Wahai Ibnu Umar), bagaimana kedudukan seorang suami yang menuduh isterinya berbuat serong?” Jawab Ibnu Umar, “Nabi saw pernah menceraikan antara dua orang yang bersaudara (yaitu suami isteri) dari Bani ’Ajlan, dan Beliau bersabda (kepada keduanya), “Allah mengetahui bahwa seorang di antara kalian berdua pasti berbohong, karena itu adakah di antara kalian yang mau bertaubat?” Ternyata mereka berdua enggan (memenuhi tawaran Beliau). Nabi bersabda lagi, “Allah mengetahui bahwa salah seorang di antara kalian berdua pasti bohong, karena itu, adakah di antara kalian yang mau bertaubat?” Ternyata mereka enggan, lalu Nabi pun bersabda, “Allah mengetahui bahwa salah seorang di antara kalian berdua pasti bohong, karena itu adakah di antara kalian yang mau bertaubat?” Namun mereka berdua enggan (untuk memenuhi tawaran Beliau). Maka selanjutnya Beliau menceraikan antara keduanya.” Ayyub berkata, “Kemudian Amr bin Dinar mengatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya di dalam hadist tersebut ada sebagian yang saya perhatikan belum engkau sampaikan, yaitu laki-laki yang bermula’anah itu menanyakan, “Mana hartaku (maharku)?” Dijawab (oleh Nabi saw), “Tidak ada harta (mahar) bagimu. Jika kamu jujur, berarti kamu sudah pernah bercampur dengannya; jika kamu bohong, maka ia (mahar) itu kian jauh darimu.”

4. Anak yang lahir dari isteri yang bermula’anah, harus diserahkan kepada sang isteri (ibunya).
Dari Ibnu Umar r.a ia berkata, “Sesungguhnya Nabi saw pernah memutuskan untuk mula’anah antara seorang suami dengan isterinya kemudian ia (suami) dipisahkan dari anaknya, lantas Beliau menceraikan antara mereka berdua, kemudian anak itu Rasulullah serahkan kepada isterinya.”

5. Isteri yang bermula’anah berhak menjadi ahli waris anaknya dan begitu juga sebaliknya.
Dari Ibnu Syihab dalam hadist Sahl bin Sa’ad, ia berkata “Menurut Sunnah Nabi saw, sesudah suami isteri yang bermula’anah dicerai, padahal sang isteri hamil maka anaknya dinisbatkan kepada ibunya. Kemudian sunnah Beliau saw berlaku mengenai hak warisnya, dimana ia (ibu tersebut) berhak menjadi ahli waris anaknya dan anaknya pun berhak menjadi ahli warisnya sesuai apa yang telah Allah tetapkan untuknya.”

Li’an dalam Perspektif Al-qur’an
Dalam Al-qur’an, permasalahan li’an disebutkan dalam beberapa ayat dalam surat An-Nur, yaitu ayat 6 sampai 10. Dalam ayat-ayat itu diterangkan diantaranya mengenai kasus li’an, pihak yang bermula’anah, serta konsekwensi hukumnya sebagaimana yang telah penulis paparkan dalam bab sebelumnya.

Lian dalam Perspektif UU Perkawinan dan KHI
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak memberikan definisi mengenai perceraian secara khusus. Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan serta penjelasannya secara kelas menyatakan bahwa perceraian dapat dilakukan apabila sesuai dengan alasan-alasan yang telah ditentukan yakni karena kematian, perceraian dan putusan pengadilan.
Dengan demikian, perceraian merupakan salah satu sebab putusnya tali perkawinan (perceraian). UUP perkawinan menyebutkan adanya 16 hal penyebab perceraian. Penyebab perceraian tersebut lebih dipertegas dalam rujukan Pengadilan Agama, yaitu Kompilasi Hukum Islam (KHI), di mana yang pertama adalah melanggar hak dan kewajiban.

Dalam hukum Islam, hak cerai terletak pada suami. Oleh karena itu di Pengadilan Agama maupun pengadilan Negeri ada istilah Cerai Talak. Sedangkan putusan pengadilan sendiri ada yang disebut sebagai cerai gugat. Di sinilah letak perbedaannya. Bahkan ada perkawinan yang putus karena li’an.

Li’an sendiri dalam UU Perkawinan bisa menyebabkan perceraian sebagaimana dalam KHI dan Al-qur’an. Hanya saja dalam perspektif Al-qur’an, apapun penyebab sebuah perceraian, yang berhak untuk menyatakan cerai (talak) adalah suami. Wallahu A’lam

About these ads

12 Komentar

  1. Hamba Allah mengatakan:

    Bagus! Anda lebih banyak menggunakan “Wallahu a’lam” dalam tulisan2 Anda. Saya akui itu bagus! Tapi perlu diingat, “wallahu a’lamu bimurodihi” itu ada agar kita mau berpikir untuk memahaminya. Bukan hanya sekedar bilang ‘ya’ yang kemudian dibiarkan tanpa ada riset dari pihak kaum muslim sendiri.

  2. Haslina mengatakan:

    Salam..sy tidak mahu memberi komentar.Sebaliknya mahu bertanya. Persoalan sy, apakah hukumnya sekiranya seorang suami selalu menuduh isterinya mempunyai Lelaki lain padahal isterinya tidak pernah memiliki lelaki lain kecuali suaminya sendiri. Adakah ia juga termasuk dalam perkara li’an?

    • koncar mengatakan:

      Suami harus membuktikan tuduhannya atau mendatangkan dua orang saksi. Orang yang menuduh harus membuktikan, dan yang dituduh bisa dimintai sumpah kalau memang tuduhan itu tidak benar.

  3. hamba ALLAH mengatakan:

    salam saudara.. saya sangat memerlukan jawapan saudara sesegera mungkin… bolehkah sekiranya seseorang isteri menuduh suaminya berlaku zina dan dan bukannya suaminya yang menuduhnya berlaku zina?(bolehkah si isteri mengangkat sumpah lian ”demi ALLAH bahawa suami saya telah berbuat zina….. dan si suami yang membalas sumpah?)kerana tidak adil sekiranya hanya lelaki yang boleh menuduh wanita dan menyebabkan mereka mengangkat sumpah lian padahal banyak lelaki di luar sana yang berzina tetapi menceraikan isteri tanpa mengakui perbuatan zina.

  4. Juzilda Junus mengatakan:

    salam, saya ingin bertanya tentang hukum Lian. Dua hari yg lalu menuduh saya berzina di bulan Ramadhan. Dia mengajukan bukti rekaman suara, yg akhirnya terbuktikan didepan mertua lelaki saya dan dihadapan suami saya bahwa rekaman itu tidak benar adanya/ kesalah pahaman. Padahal sebelum dia/ suami saya bertanya, saya berusaha mengingatkan, bahwa bulan ini adalah bulan Ramadhan, bahwa tidak lah mungkin saya melakukannya karena takut laknat Allah.Suami saya memang mengakui kesalahannya, tapi setelah mendengarkan didepan mertua laki2 saya. Saya sebagai istri tidak menerima, apakah ini termasuk di hukum Lian?

  5. sisri purnawati mengatakan:

    Bolehkah saya bertanya, bagaimana jika seorang suami menikahi wanita yang telah berjinah lalu setahuan perkawinan mereka akhirnya sang suami mengetahui bahwa istrinya dulu sewaktu gadis telah berjinah dengan lakilaki lain,,, lalu ap hukuman yang pantas bagi seorang istri tersebut?

  6. ely mengatakan:

    asalamualaikum……saya sudah berkahwin selama 4 thun dan dikurniakan dgn seorang cahaya mata…spjg perkhwinan ini kami sering bertengkar..suami saya seorang yg panas baran.dia sering memukul saya tanpa peri kemanuasian…..selain itu hbgan antara suami dgn keluarga juga tidak pernah serasi…suami sering menjauhkan diri..sering mencari alasan untuk tidak balik ke rumah ebu saya….termasukla hari raya aidilfitri….setiap kali raya saya sering beralah untuk beraya rumah suami…slpas beberapa hari raya..saya akan pulang sendiri tanpa ditemani oleh suami…boleh dikira beberapa kali sahaja suami pernah datang ke rumah ebu saya…..adakah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini atau hanya perpisahan sahaja dapat menyelesaikan masalah ini

  7. Agus San Rosad mengatakan:

    Assalamualaikum, mau bertanya jika menuduh istri berzina tapi sebelum dilakukan perkawinan, karena ternyata istri yang baru dinikahi telah hamil. apakah itu termasuk li’an? jika istri memang mengakuinya?

    • koncar mengatakan:

      Menurut saya itu bukan termasuk sumpah li’an, akan tetapi perkawinan tersebut dapat dibatalkan karena terjadi kesalahsangkaan terhadap salah satu pasangan (dalam hal ini istri).

  8. Monasinarsuriya Fauzi mengatakan:

    Assalamualaikum, soalan saya yang pertama, jika li’an dilafazkan beberapa kali diluar makamah adakah gugurnya talak ke atas isteri tersebut? Apakah tindakan seterusnya yang perlu dilakukan oleh isteri dan suami? soalan kedua, sekiranya si suami itu jahil dan tidak tahu menuduh isterinya melakukan zina adalah li’an. Adakah pertuduhan tersebut dikira li’an? Soalan yang ke tiga, Adakah menuduh isteri berzina dalam keadaan amat marah juga dikira sebagai li’an? Soalan keempat bolehkah suami dan isteri bercampur bersama walaupun si suami telah melafazkan li’an? Soalan kelima, menuduh isteri dan anak lelaki sendiri melakukan zina juga dikira li’an. soalan terakhir apakah kesan li’an dalam institusi keluarga. Sekian terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: