Urip Rapanggah.

Beranda » Karya Teman » Bertanya tentang Arti Hidupku

Bertanya tentang Arti Hidupku

Bintang-bintang mulai padam dan gemerlapnya memudar. Kini hanya bulan yang sendirian berjaga di langit malam. Yah, seperti ini kan pemandangan yang kulihat di langit malam setiap harinya? Demikian aku bertanya pada diriku sendiri. Loteng rumahku memang tempat terfavorit untuk merenung. Entah itu ketika ulangan jelek atau sewaktu ayah dan ibu sedang bertengkar.

Namun, sekalipun aku hampir setiap saat mengunjungi loteng ini karena orang tuaku sering bertengkar, malam ini menjadi begitu istimewa. Ada sesuatu yang berbeda, sebuah misteri di sana. Ada sebuah pertanyaan besar menggantung. Bersama awan-awan kelabu.

Creatio ex nihilo. Dari kehampaan menjadi ada. Apakah benar demikian Tuhan menciptakan dunia ini? Namun, pertanyaan itu tidaklah penting, sebuah pertanyaan yang lebih besar menunggu.

Apa yang sedang aku lakukan? Kenapa aku ada di sini? Apa yang akan kulakukan nanti? Ke mana aku setelah lulus SMU?

Aku teringat dengan orang-orang yang kukenal. Pamanku, mbakku, mbahku, mereka sekolah, lalu lulus, terus bekerja, kemudian menjadi tua dan kehidupan menjadi lesu.

Ha ha ha… Aku sering menertawakan mereka dalam hatiku. Lalu, kusebut mereka terkena penyakit takdir manusia biasa. Ya, mereka yang hanya menjalani hidup tanpa tahu maknanya. Bagiku, setiap orang memang hidup. Namun, hanya sedikit yang benar-benar hidup.

Seakan-akan, hantu Plato bangkit dari kuburnya dan bertanya kepadaku. Seperti ia sering bertanya pada orang-orang Yunani di masanya, “Apakah arti kehidupan bagimu?”

Sekalipun bukan Plato sendiri yang bertanya, pertanyaan itu membuatku hampir tidak bisa tidur tiga hari terakhir ini. Pertanyaan ini jugalah yang memaksaku mengunjungi loteng favoritku ini.

Aku meneruskan melamun, sementara di bawah sana suara ayahku meninggi. Mm, rumah telah menjadi medan perang rupanya.

Lamunanku terhenti. Ponselku bergetar. Aku menatapnya geli, si tua ini masih kuat juga bergetar. Tapi itu segera berlalu, Janet calling! Sudah tiga kali aku menolak ajakan kencannya. Sebuah kencan makan, dua kali nonton, dan sekarang aku mengacuhkan dia. Oh, poor Janet.

“Halo, Selamat malam, Janet.”
“Denis! Ke mana saja kamu? Sedang membuat robot sampai-sampai sms-ku nggak kamu balas?”
“Waduh, ngapunten ndoro putri. Kulo stress, bapak lan ibu lagi perang”.
“Kamu kan bisa bilang begitu di sms. Hayo, ada apa, Den?”
“Tidak ada apa-apa, percayalah padaku.”
“Barusan kamu kan yang tidak percaya dengan berbohong dan menyimpan sendiri masalahmu?”

Selalu seperti ini. Janet dikaruniai Tuhan dengan mata batin yang mampu menembus pertahanan mental sekuat apa pun. Menyingkap rahasia sedalam apa pun dan selalu memaksaku mengatakan kebenaran di hadapannya. Kini dia cuma diam, namun itu sudah cukup memaksaku menceritakan kerisauan hatiku.

Janet, Janet…

Aku mulai bercerita. Tiga hari yang lalu, sebelum aku akan pulang dari Jakarta dengan menumpang kereta Matarmaja, Mas Edi berbincang-bincang denganku. Sebuah pertanyaan dia lontarkan kepadaku. Awalnya, aku tidak tertarik. Namun, setelah aku masuk kereta Matarmaja, pertanyaan itu memburuku seperti pembunuh bayaran yang bengis.

Dalam kereta itu, aku melihat rupa-rupa kehidupan. Wajah dari manusia dalam kereta yang berdesakan; seorang pengamen, pedagang asongan, ibu-ibu tua, anak kecil yang dekil. Juga, ada bapak-bapak yang membawa banyak sekali bawaan, teriakan-teriakan menawarkan barang dagangan, dan kehidupan yang berat.

Ya, pertanyaan itu datang. Belatinya menghunjam hatiku. Apa arti kehidupan bagi mereka? Bagiku? Begitu beratkah kehidupan itu?

Aku menangis. Aku menceritakan segala kegundahanku kepada Janet, kegelisahanku dan kebingunganku. Aku yakin dia tidak mengerti, begitu pula dengan semua orang di dunia ini. Tapi, aku tetap bercerita. Aku ingin, walau sebentar, beban ini kutitipkan di bahu Janet.

Pembicaraan usai, perang antara ayah dan ibu juga telah reda. Dalam kamar tidurku yang gelap, aku merenung memandang langit-langit di sana. Dua jam yang lalu, Janet menghiburku dengan kehangatannya. Es-es di hatiku pun mulai meleleh. Namun, siksaan itu datang lagi. Hawa dingin itu menyerang, dan pilar-pilar es beku sedang dibangun, hatiku kalut, sesak, dan bimbang.

Gambaran itu datang lagi kepadaku. Di dalam kereta Matarmaja yang ramai, dalam kegelapan dan kesendirian, aku merasa sangat kesepian. Aku menutup mataku, berlari dari kenyataan di depanku.

Aku membuka mata. Pagi yang cerah, lautan lepas. Sejauh mataku mencari, hanya lautan berbataskan langit. Aku mengapung bersama rakitku, sendirian di tengah samudera raya. Tidak ada ayah ibu, tidak ada Mas Edi, dan yang paling buruk…. Janet tidak di sana. Rakitku bergoyang-goyang, mengarungi samudera karena terbawa arus.

Aku terbangun. Keringat membasahi tubuhku. Tidak ada rakit dan laut. Aku berada di kamarku. Resah, mimpi buruk. Lantas, kunyalakan lampu dan kulihat hiasan busur di dinding pemberian Mas Edi.

Hidup tanpa arti

Aku harus melakukan sesuatu!
“Halo, Mas Edi ?”
“Wah, malam sekali kamu menelepon, sekarang pukul satu lebih lima dini hari”
“Maaf sekali, Mas”.
“Ada apa? Hatimu gundah dan tidak bisa tidur? Apakah pembicaraanku denganmu kemarin mengganggumu?”

Sialan! pikirku. Malam-malam, aku sedang bingung, dan Mas Edi bisa berbicara setenang ini? kamu harus bertanggung jawab karena mencekokiku dengan ideologimu yang berbahaya!

“Begini Mas, aku lagi bingung nih, bantu aku”.

Setengah jam berlalu sejak aku menelepon Mas Edi. Dia masih bicara. Yah, memang seperti itu Mas Edi, penasihat yang baik. Sekalipun kadang dia meracuniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuatku berpikir berhari-hari.

“Bagi jamur, hidup adalah memakan dan menumpang jasad hewan lain. Bagi harimau, hidup adalah perburuan. Bagi rusa, lari dari harimau berarti hidup, itulah rantai makanan. Tetapi, manusia berbeda. Manusia hidup bukan hanya untuk bertahan hidup. Lalu, apa tujuan manusia hidup? Bukankah itu adalah tugasmu mencarinya?”

Demikianlah kata-kata Mas Edi malam itu. Setelah mengucapkan terima kasih, aku berbaring. Menutup diariku dan mengembalikan bolpoin ke dalam kotak pensil, mengumpat-umpat sebentar, kemudian terlelap.

***

22 desember 2007. Demikianlah tulisan dalam diariku tertanggal. Ha ha ha… Sepuluh tahun sudah berlalu. Aku membayangkan diriku yang masih SMU waktu itu, langit yang gelap, suara hangat Janet, ketenangan Mas Edi. Sepuluh tahun ternyata tidak mengikis ingatanku tentang mereka. Namun, kini pertanyaan itu tetap berputar putar di kepalaku.

Untuk apa aku hidup?
Tiba-tiba, hologram phone-ku bergetar. Kutekan tombol yes dan hologram wajah Janet muncul.
“Semoga sukses, Sayang. Aku sayang kamu….”
“Makasih, Tuan Putri”.

Ucapan itu memang tak lebih dari dua puluh detik. Namun, energi baru mengaliri tubuhku. Yah, ini tidak jelek kok. Janet bisa jadi alasan buatku untuk terus hidup. Aku akan membahagiakannya.

Aku membuka dompetku dan kuambil kartu kecil dari sana, tertulis: Orang mungkin menghargaimu karena kamu jenius. Cewek-cewek mengidolakanmu karena kamu baik dan guru-guru menghormatimu karena kamu sopan dan cerdas. Namun, aku mencintaimu karena kamu ada. Karena kamu hidup. Apa pun kamu, jenius atau idiot, sopan atau bejat, aku mencintaimu. Bagiku, kamu tetaplah pangeran kecilku.

Itu adalah kartu ucapan Janet sewaktu aku berulang tahun yang ke-18. Kamu mencintaiku tanpa alasan. Tetapi kini, biarlah kamu yang menjadi alasanku untuk hidup, Janet.

Aku menghela napas panjang. Sudah saatnya, kataku dalam hati. Aku memasukkan diariku dan kartu kecil buatan Janet. Aku berjalan menuju Sabuga, menatap spanduk besar di seberang jalan.

Pengenalan Teknologi Antimateri Pembicara: Sdr. Denis Putro Wiyono, M.T

28 Januari 2017
Aku bergegas, tidak ingin ilmuwan-ilmuwan itu menungguku. Lalu, kukepalkan tinjuku di udara. One reason, one name, Janet!

Oleh Satria Digja Pratama (pelajar Institut Teknologi Bandung)


2 Komentar

  1. leo mengatakan:

    quite a good story

  2. Boogie Setyanggono mengatakan:

    Nang endi kowe le kok ratau ketok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: