Urip Rapanggah.

Beranda » Karya Teman » DPR Tidak Konsisten

DPR Tidak Konsisten

Dewan Perwakilan Rakyat dinilai tidak konsisten dalam proses seleksi hakim konstitusi. Menurut pengajar hukum tata negara Universitas Andalas, Saldi Isra, keistimewaan bagi Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie dan hakim konstitusi Harjono berpeluang memancing jabatan publik lainnya menuntut hal serupa.

“Memang DPR punya hak melakukan hal tersebut, tapi bagaimana jika semua menuntut?” ujarnya saat dihubungi Tempo kemarin. Misalnya, kata dia, bila Susilo Bambang Yudhoyono dicalonkan lagi menjadi presiden, “Apakah segala syarat mengenai partai pendukung dan kapabilitasnya tidak perlu lagi dipertanyakan?”

Komisi Hukum DPR memutuskan memberikan perlakuan berbeda kepada Jimly dan Harjono. Mereka tidak perlu lagi menjalani uji kelayakan seperti calon hakim konstitusi lainnya.

Langkah tersebut, kata Saldi, akan menimbulkan diskriminasi antarcalon hakim yang sudah dari awal mencalonkan diri. Inti semua proses tersebut, kata dia, bukan hanya kelengkapan berkas atau wawancara, tapi juga mencakup pertanggungjawaban terhadap publik.

Menanggapi hal ini, Ketua DPR Agung Laksono mengatakan perlakuan istimewa bagi Jimly dan Harjono sah saja. “Asalkan tidak melanggar peraturan perundang-undangan,” katanya.

Menurut dia, hakim konstitusi yang mencalonkan lagi dan tidak perlu menjalani prosedur seperti calon lain karena mereka sudah pernah menjalani uji kelayakan. “Saat masuk ke MK mereka telah menjalani proses itu, jadi tidak perlu diulang,” katanya.

Wakil Ketua Komisi Hukum Azis Syamsuddin membantah kabar Jimly dan Harjono tidak perlu ikut uji kepatutan dan kelayakan. “Tidak benar. Tetap harus menjalani, hanya metodenya yang berbeda,” katanya.

Azis mengakui ada tahapan seleksi yang bisa langsung diloloskan, seperti administrasi. “Mereka kan pernah menjalani hal seperti itu. Kalau anak SMA mau pindah, kan tidak perlu administrasi yang aneh-aneh,” ujar politikus Partai Golkar ini.

Dia menjelaskan rapat pleno pada Selasa malam lalu memutuskan hakim konstitusi yang mencalonkan lagi hanya mendapat perlakuan berbeda pada saat wawancara. “Sifatnya hanya evaluasi kinerja, bukan dari awal seperti kandidat lainnya,” kata Azis.

Sumber: Koran Tempo (28/02/2008)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: