Urip Rapanggah.

Beranda » Informatika » Pertamina Perluas Pembatasan BBM

Pertamina Perluas Pembatasan BBM

JAKARTA – Setelah membatasi pembelian BBM di Jakarta, Pertamina akan memberlakukan aturan tersebut di wilayah-wilayah lain. Untuk teknis pelaksanaannya, BUMN perminyakan itu menyerahkan kepada kepala wilayah masing-masing.

Vice President Komunikasi PT Pertamina Wisnuntoro mengatakan, pembatasan pembelian itu untuk menekan upaya penimbunan BBM atau pembelian secara berlebihan oleh konsumen. “Untuk pengaturannya, kami serahkan ke masing-masing pimpinan Pertamina di daerah,” ujarnya ketika dihubungi Jawa Pos kemarin (17/5).

Wisnuntoro mengatakan, langkah pembatasan pembelian BBM dijalankan bersamaan dengan upaya lain Pertamina. Yakni, Pertamina menambah pasokan BBM hingga 5 persen dari jatah yang biasa diterima stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). “Tujuannya, agar antrean panjang terlayani,” katanya.

Seperti diwartakan, Pertamina wilayah pemasaran BBM ritel region III, yakni Jabodetabek dan Jawa bagian barat, memberlakukan pembatasan pembelian produk premium dan solar. Pembelian premium oleh kendaraan pribadi maksimum Rp 75 ribu (16,66 liter), angkutan umum atau angkot maksimum Rp 100 ribu (22,22 liter), dan sepeda motor maksimum Rp 15 ribu (3,33 liter).

Lalu pembelian solar untuk kendaraan pribadi dibatasi maksimum Rp 75 ribu (17,44 liter), angkutan umum atau angkot maksimum Rp 100 ribu (23,25 liter), truk maksimum Rp 250 ribu (58,13 liter), dan bus antarkota maksimum Rp 250 ribu (58,13 liter).

Langkah pembatasan pembelian BBM oleh Pertamina didukung Badan Pengatur Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasjim mengatakan, langkah pembatasan perlu dilakukan untuk meminimalkan aksi pembelian besar-besaran oleh masyarakat. “Ini untuk melindungi masyarakat banyak juga,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, adanya aksi pembelian besar-besaran yang mengarah pada upaya penimbunan sangat merugikan masyarakat banyak. Pasalnya, banyak calon pembeli BBM yang sudah mengantre di SPBU harus kecewa karena stok BBM diborong konsumen lain. “Jadi, di sini ada prinsip keadilan,” katanya.

Ibrahim mengaku, manajemen Pertamina sudah berkoordinasi dengan BPH Migas sebelum memberlakukan aturan pembatasan pembelian. Berdasar kajian bersama, BPH Migas pun memberikan lampu hijau kepada Pertamina.

Apakah akan diberlakukan di seluruh Indonesia? “Iya, Pertamina bilangnya seperti itu,” jawabnya. Menurut Ibrahim, BPH Migas sudah menyerahkan pelaksanaan aturan itu kepada manajemen Pertamina selaku operator di penyediaan dan distribusi BBM bersubsidi. “Supaya efektif mengurangi lonjakan konsumsi,” lanjutnya.

Ibrahim, yang ketika dihubungi Jawa Pos sedang dalam perjalanan dari Medan ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) untuk sosialisasi program kartu kendali minyak tanah, mengatakan, ketika sebagian rombongannya mengisi BBM di wilayah Medan, pembelian premium sudah dibatasi maksimal Rp 50.000. “Jadi, saya kira di tempat lain juga sudah diberlakukan. Mungkin batasan maksimalnya bisa bervariasi di tiap daerah, bergantung pada kondisi,” terangnya.

Menurut Ibrahim, langkah pembatasan itu memang berpotensi mengagetkan beberapa konsumen. Tapi, dengan sosialisasi yang cukup, diharapkan masyarakat mendapat informasi yang jelas terkait aturan tersebut. “Menurut saya, masyarakat bisa memahami aturan ini,” tuturnya.

Dia menambahkan, langkah pembatasan pembelian merupakan upaya jangka pendek untuk mengatasi lonjakan konsumsi menjelang kenaikan harga BBM. Karena itu, jika pemerintah secara resmi sudah mengumumkan keputusan menaikkan harga BBM, konsumsi BBM diperkirakan kembali normal. “Jika sudah normal, pembatasan itu tidak diperlukan lagi,” jelasnya.

Sejak adanya rencana kenaikan harga BBM bersubsidi, konsumsi premium dan solar di berbagai daerah memang langsung melonjak. Berdasar data laporan dari berbagai daerah yang diterima Pertamina, lonjakan konsumsi BBM yang terpantau dari penjualan di SPBU terjadi dalam tingkat yang cukup intens.

Misalnya, konsumsi premium dan solar di Medan naik 7 persen, premium dan solar di Palembang naik 6 persen, premium Jakarta naik 15 persen, solar di Jakarta naik 5 persen. Kemudian, premium dan solar di Semarang naik 10 persen, premium dan solar Surabaya naik 18 persen, premium dan solar Balikpapan naik 10 persen, sedangkan premium dan solar Makassar naik 5 persen. Angka normal penjualan nasional untuk premium adalah 50 ribu KL, sedangkan solar 37 ribu KL.

Karena itu, kata Ibrahim, selain upaya membatasi pembelian, BPH Migas meminta Pertamina terus melakukan sosialisasi agar masyarakat mengetahui bahwa stok BBM nasional masih aman dan pasokan tidak dikurangi. “Jadi, tidak perlu melakukan pembelian berlebihan, apalagi menimbun,” ujarnya.

Konsumen Protes

Sosialisasi aturan pembatasan pembelian BBM terbukti sangat minim. Akibatnya, petugas SPBU sering menjadi sasaran kemarahan para konsumen yang merasa haknya mendapat BBM dibatasi.

Seperti di sebuah SPBU di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, kemarin. Hampir semua konsumen yang akan mengisi BBM untuk kendaraannya tidak mengetahui adanya pembatasan pengisian itu. Sebagian SPBU malah belum menempelkan peraturan tersebut, kendati masuk dalam region III yang meliputi Jabodetabek dan Jawa bagian barat.

Seorang petugas bernama Hadi dengan sabar terus menginformasikan kepada konsumen bahwa saat ini Pertamina membatasi pembelian premium untuk mobil Rp 75.000 untuk satu kali pengisian. “Saya capek Mas harus menjelaskan terus-menerus kepada pembeli. Apalagi, mereka selalu memarahi saya setiap kali saya memberi tahu pembatasan ini. Saya kan cuma kuli Mas, ikut perintah atasan,” ujarnya memelas.

Seorang konsumen yang akan mengisi bahan bakar memprotes aturan tersebut. Menurut dia, aturan baru itu sangat lucu dan tidak jelas maksudnya. “Lucu banget, kan kita beli bensin secara legal dan ini layanan umum. Masak harus dibatas-batasi. Lagian kita juga beli memakai uang kok,” jelasnya.

Seorang konsumen lain mengatakan, aturan itu sangat aneh karena konsumen bisa saja bolak balik membeli tanpa dicatat nomor kendaraannya. Aneh sekali. Tapi, dengan aturan ini saya merasa kita akan menghadapi situasi yang lebih sulit ke depan,” ujarnya.

Memang, keluhan para konsumen memperlihatkan bahwa aturan Pertamina itu tidak disosialisasikan kepada masyarakat. Ini terbukti dari banyaknya konsumen yang tidak percaya pada aturan pembatasan pengisian.

Selain itu, Hadi mengatakan, selama ini dengan lebarnya perbedaan harga antara premium dan bahan bakar nonsubsidi, banyak mobil mewah yang mengisi bahan bakar premium. Bahkan, di SPBU tersebut tampak tempat pengisian pertamax dan pertamax plus sepi pengunjung.

Pembatasan pembelian BBM juga mulai dilakukan di Jogja. Hartoyo, seorang pengelola SPBU, mengungkapkan, faksimili dari Pertamina tersebut diterima kemarin (17/5). Padahal, edaran itu diteken Kamis (15/5). “Selain pembatasan pembelian, jatah pasokan BBM ke SPBU kami juga dibatasi. Biasanya selama interval tiga hari kita mendapat pasokan 24.000 liter-24.000 liter-16.000 liter, kini menjadi 16.000 liter setiap hari,” ujarnya.

Sedangkan di Jawa Timur dan sekitarnya, pembatasan pembelian BMM di SPBU mulai terjadi di beberapa daerah, seperti di Trenggalek dan Bima. Maulana Taiz, general manager Pertamina UPMS V yang membawahi wilayah kerja Jatim dan Bali, mengakui sudah menerima surat edaran pembatasan pembelian BBM. “Saya terima Jumat (16/5), namun melihat perkembangan terakhir pelaksanaannya saya tunda dulu, mungkin baru Senin (19/5) saya bicarakan dengan Hiswana Migas” katanya saat dihubungi tadi malam.

Maulana menjelaskan, edaran pembatasan beli BBM itu sebenarnya hanya panduan bagi SPBU agar ada standar dalam menyikapi melonjaknya pembelian. “Jadi meskipun ada edarannya, kalau kondisinya terkendali ya nggak dilakukan pembatasan beli,” terangnya. Di wilayah UPMS V, jelas Maulana, perminataan masih terkendali. “Kenaikannya masih di kisaran 5-10 persen, masih bisa kita atasi,” ujarnya. (owi/jpnn/kim)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: