Urip Rapanggah.

Beranda » Silaturahim » Yang Banyak, yang Terdepan

Yang Banyak, yang Terdepan

Luthfi Assyaukanie, Deputi Direktur Freedom Institute Jakarta pernah menulis sebuah artikel lepas di situs jaringan islam liberlal (JIL).

Dalam artikel yang berjudul “Dua Amina” tersebut ia menceritakan kekagumannya terhadap dua sosok tokoh wanita islam yang cukup terkenal dan mempunyai nama serupa, yakni “Amina”.

Amina yang pertama adalah Amina Rasul, seorang ibu cantik yang memancarkan aura kecerdasan, ketegasan, dan keakraban dalam bergaul. Amina menurut dia adalah tipe perempuan Muslim yang percaya diri dan tahu bagaimana menjadi modern tanpa harus mengorbankan agamanya.

Yang kedua adalah Amina Wadud, penulis buku  Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective.

Sebelumnya, Luthfi terinspirasi dari cerita ibunya yang sering ia dengar sebelum tidur setiap malam waktu ia masih kecil. Namun cerita tersebut bukan tentang dua Amina di atas, melainkan Siti Aminah, ibunda Nabi Muhammad SAW, sosok wanita tegar, baik hati, dan punya pendirian. Ia adalah ibu yang mencintai keluarga dengan segenap hatinya.

Aminah ibunda Nabi jelas berbeda dengan Amina Rasul, apalagi Amina wadud, sosok kontroversi yang sering membuat sensasi dalam pemikirannya.

Pada 18 Maret 2005, secara demonstratif dia (Aminah Wadud) menyelenggarakan salat Jumat di sebuah gereja di New York. Dia sendiri yang memimpin salat itu di depan jamaah campuran laki-laki dan perempuan. Acara Jumatan itu mendapat liputan dari sejumlah media di AS dan internasional. Sebagian besar tokoh Islam mengecam acara Amina. Tidak kurang dari Yusuf Qardawi mengeluarkan fatwa menyatakan sesatnya cara salat seperti itu.

Sayangnya, dalam tulisan tersebut Luthfi Assyaukanie tidak banyak mengemukakan dasar-dasar yang digunakan Aminah Wadud dalam peristiwa tersebut. Yaitu beberapa hadits yang menyinggung tentang kepemimpinan perempuan dalam ibadah (baca : sholat).

Memang ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa perempuan diperbolehkan menjadi imam sholat, tetapi secara kontekstual dalam hadits Ummu Waraqah tersebut dinyatakan, bahwa di sana (dirumah perempuan tersebut) terdapat kaum pria, yang oleh ‘Abdurrahman, salah seorang perawi hadits tersebut dinyatakan sebagai syaikh ‘ajûz (lelaki tua renta).  Dan hanya satu hadits, tidak ada “temannya”.

Sedang hadits yang mengharamkan perempuan menjadi Imam sholat cukup banyak, setidaknya ada dua yang saya ketahui.

Hadits pertama menyatakan perempuan hanya bisa menjadi imam bagi kaum perempuan juga :

Dan beliau (Nabi Saw) mengizinkannya untuk menjadi imam bagi kaum wanita penghuni rumahnya. [HR. ad-Daruquthni].

Hadits kedua secara tegas mengharamkan perempuan menjadi imam bagi kaum laki-laki :
Hendaknya tidak sekali-kali wanita menjadi imam bagi seorang lelaki. [HR. Ibn Majah].

Saya tidak perlu mengkritisi tulisan Luthfi Assyaukanie. Bagi saya yang terpenting adalah menelusiri pemikiran Amina Wadud, yang ia banggakan.

Amina Wadud dalam masalah ini, menurut saya hanya melihat hadits secara sepihak tanpa memperdulikan hadits-hadits yang lain. Sedangkan hadits tersebut tidak menutup kemungkinan mengalami multitafsir. Jadi perlu kita bandingkan dengan hadits hadits lainnya.

Jika ada hadits yang lebih banyak dan lebih jelas dan tegas (tidak mengandung penafsiran ganda), itulah yang seharusnya kita pakai. Setuju?

Sebagaimana kaidah ushuliyyah “i’mâl ad-dalîlayn awlâ min ihmâl ahadihimâ” (menggunakan dua dalil, lebih baik ketimbang mengabaikan salah satunya).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: