Urip Rapanggah.

Beranda » Karya Teman » Dengan Puasa Mengerem Perubahan Iklim

Dengan Puasa Mengerem Perubahan Iklim

penulislepas.com : Kelestarian bumi dewasa ini menghadapi ancaman serius. Pulau-pulau kecil terancam tenggelam, produksi pertanian terganggu, banjir dan kekeringan semakin merajalela, suhu bumi terus meningkat, resiko kebakaran hutan, berkembangnya penyakit tropis, dan lain sebagainya. Semua itu terjadi karena efek perubahan iklim atau dikenal juga dengan pemanasan global.

Pemanasan global (global warming) terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer sehingga radiasi matahari terperangkap berulangkali dalam jangka waktu relatif lama, dan akhirnya menyebabkan suhu permukaan bumi secara global meningkat. Pemanasan global kemudian menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara. Perubahan unsur iklim tersebut akhirnya merubah pola iklim dunia dan kemudian disebut dengan Perubahan Iklim (Climate Change). BMK(2009) melaporkan bahwa GRK di Indonesia antara tahun 2004 – 2007 konsentrasinya cenderung mengalami peningkatan yang serius dan memiliki kemiripan dengan data global yang diamati oleh IPCC. Menurut analisa BMG, kalau kecenderungan kenaikan konsentrasi GRK seperti sekarang ini, maka suhu muka bumi akan naik antara 1,50- 4,50 °C pada tahun 2030. Bisa dibayangkan betapa semakin dahsyatnya dampak perubahan iklim bagi bumi dan kehidupan manusia.

Puasa Ramadhan tahun ini terasa lebih berat secara fisik, karena berada pada musim kemarau dan di tengah prediksi terjadinya El-nino. Semua ini menjadi bukti nyata telah hadirnya dampak perubahan iklim di tengah kita. Bagi muslim kondisi ini merupakan tantangan dan dimaknai sebagai ujian untuk semakin menggembleng kualitas berpuasa. Puasa hakikatnya adalah menahan diri. Secara tekstual berarti menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami-istri sehari penuh. Tapi secara kontektual mengajarkan si pelaku untuk bisa menahan nafsu. Yang halal saja dilarang selama puasa, maka harapannya memberi efek pada kemampuan menghindari yang haram.

Islam tidak mensyari’atkan sesuatu selain pasti mengandung hikmah, baik yang diketahui maupun tidak diketahui. Hikmah adalah harta orang Islam yang hilang, barang siapa yang menemukannya maka ia untuknya, demikian Ali Bin Abi Thalib memberi nasihat agar setiap kita berupaya menggali hikmah dari setiap perbuatan demi mengoptimalkannya sebagai motivasi ibadah. Telah banyak dikemukakan hikmah puasa, baik untuk aspek spiritual hingga kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Namun agaknya masih ada satu hikmah yang jarang diulas para ustadz, kyai, atau ahli, yaitu hikmah puasa terhadap kelestarian lingkungan. Padahal realita kehidupan manusia sangat erat kaitannya dengan dinamika lingkungannya.

Berpuasa dengan cuaca yang panas menyengat seperti saat ini, tentu membutuhkan kearifan menyikapinya. Ini memang bagian dari ujian, namun tentu tak hanya ditanggapi dengan sikap sabar tanpa berbuat apa-apa. Perlu upaya meminimalisasi pengaruhnya, sehingga ibadah puasa kita bisa nyaman dan optimal. Langkah sederhana misalnya dengan menanam pohon atau tamanisasi di rumah atau tempat kerja. Hadirnya tanaman akan meneduhkan lingkungan sekaligus menyejukkan pandangan. Secara fisik maupun psikologis keduanya akan menjadi variabel penting untuk turut berperan dalam usaha menahan emosi selama berpuasa sebagaimana yang diharapkan. Atau misalnya juga dalam hal menjaga kebersihan. Lingkungan yang berantakan, kotor, dan penuh sampah tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada suasana hati manusia. Lagi-lagi lingkungan yang nyaman akan membuat emosi yang tertata dan mudah terkendali. Oleh karena itu sebagai variabel yang tidak bisa diremehkan dalam mengoptimalkan ibadah puasa, kelestarian lingkungan merupakan kebutuhan setiap muslim. Prof. Yusuf Qardhawi (2002) memposisikan setara antara memperhatikan lingkungan dengan memperhatikan agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan.

Al-Qur’an Surat Ar Rum ayat 41 menegaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut itu sejatinya disebabkan karena perbuatan tangan manusia sendiri dan Allah memberikan bencana agar manusia itu sadar kembali ke jalan yang benar. Perubahan iklim yang terjadi sekarang ini membuktikannya. Memang ada penyebab faktor alami, namun sebagian besar adalah karena aktifitas manusia. Misalnya membuang sampah sembarangan, penanganan sampah yang tidak pas, penebangan hutan, penggunaan bahan bakar berlebihan, dan lainnya.

Puasa dapat menjadi momentum bangkitnya kesadaran akan kepedulian lingkungan. Tak sekadar karena konsepsi, realita telah mengajari kita ke arah sana. Upaya mengerem perubahan iklim akan kuat dan konsisten implementasinya, jika setiap pihak memainkan perannya berangkat dari kesadaran moral dan pemahaman yang mantap. Kedua prasyarat tersebut tentu membutuhkan media transformasi. Dan, momentum puasa banyak menyediakan sarana itu. Ada media pendidikan diri sendiri (tarbiyah dzatiyah), dimana setiap muslim timbul kesadaran karena upaya sendiri, seperti karena belajar dari alam atau memahami sendiri. Ada pula yang sistematis, yaitu dakwah, dimana selama puasa ini banyak sekali dijumpai kajian, majelis taklim, dan sejenisya sebagai media menimba ilmu. Disini dibutuhkan ustadz, kyai, atau penceramah yang peduli lingkungan, sehingga mampu menjadi juru kampanye kepedulian lingkungan.

Apa yang dilakukan di depan kelihatannya kecil dibandingkan masalah perubahan iklim yang sifatnya global. Perlu dipahami bahwa yang kecil-kecil itu adalah pilar. Jika semuanya secara masif dilaksanakan maka selain mampu memberi kontibusi pada minimalisasi perubahan juga akan mampu mendorong partisipasi dari lingkup yang lebih besar, seperti komunitas, dunia usaha, pemerintah, dan lainnya. Tanggal 7 Desember 2009 nanti kembali akan digelar Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen Denmark, namun hingga kini titik temu kepentingan antar negara untuk bersama-sama mengantisipasi perubahan iklim secara nyata masih belum terwujud. Maka langkah realistis dan kontributif yang haru segera dilakukan adalah Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai sekarang juga, sebagaimana pesan K.H Abdullah Gymnastiar. Puasa merupakan momentum tepat bagi muslim sebagai mayoritas di Indonesia untuk memberikan kontribusi dalam upaya mengerem perubahan iklim yang dahsyat dampakya. Langkah ini akan semakin membuktikan pada dunia bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta, bukan agama teroris.

*Ribut Lupiyanto. Peneliti Pusat Studi Lingkungan (PSL)

Universitas Islam Indonesia

Yogyakarta

http://www.lupy-indonesia.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: